Translate

Sabtu, 02 Agustus 2014

WAE REBO'S PENTI PLUS



Yuk… nyasar di Flores
14 – 21 November 2014
[hanya untuk 2 orang….siapa cepat, dia dapat]





Tentang Wae Rebo

Wae Rebo merupakan salah satu desa di Manggarai yang masih mempertahankan tata ruang desa dan bentuk rumah-rumah adatnya. Terdiri atas 7 buah rumah yang berbentuk kerucut dengan daya tampung 30 hingga 40 orang. Hingga tahun 2012, desa ini nyaris tidak dikenal orang Indonesia termasuk yang tinggal di Flores, karena letaknya yang terpencil. Wae Rebo mulai dikenal orang Indonesia ketika UNESCO memberikan penghargaan atas usaha konservasi warisan budaya, setelah dilakukan renovasi rumah-rumah adat di dalamnya.

Terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit dan gunung-gunung. Desa ini tidak bisa dijangkau dengan kendaraan.  Untuk mencapainya, satu-satunya cara adalah dengan trekking menembus hutan, mendaki bukit-bukit dan menyeberangi sungai selama 3 hingga 4 jam.  Memang melelahkan, namun kelelahan itu akan terbayarkan begitu tiba di Wae Rebo. Keindahan dan keteduhan desa, keramah-tamahan penduduknya akan menghilangkan segala kelelahan dalam perjalanan.

Tentang Penti

Pekerjaan utama masyarakat Manggarai adalah petani, karena itu masa tanam menjadi dasar penanggalan mereka. Tahun baru menjadi saat untuk mulai  menanam. Pada saat inilah diselenggarakan Penti, yaitu upacara adat pergantian tahun. Dalam perayaan ini, masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas panen yang didapat selama setahun dan memohon berkat untuk bagi kesuburan pertanian di tahun yang akan datang. Perayaan Penti merupakan moment penting bagi kehidupan masyarakat Manggarai. Keunikannya memuliki daya tarik tersendiri bagi orang lain di luar Manggarai.

Manggarai merupakan wilayah yang luas dan memiliki cuaca dan kondisi tanah yang berbeda-beda  sehingga jenis tanaman juga berbeda-beda. Karena itu perayaan Penti jatuh pada saat yang berbeda  untuk tiap wilayah yang berbeda. Di Wae Rebo, Penti dirayakan pada tanggal 16 November tiap tahun.

Menyaksikan Penti di Wae Rebo memberikan 2 keistimewaan, yaitu melihat keindahan serta keunikan desa Wae Rebo dan melihat upacara yang hanya diselenggarakan 1 kali dalam satu tahun.  Berdasarkan kejadian di tahun –tahun sebelumnya, upacara Penti di Wae Rebo selalu diminati. Desa Wae Rebo menjadi sangat ramai. Karena itu Yuk…nyasar di Flores hanya bisa mengajak 2 orang untuk mengikuti perayaan  ini.

Tentang Plus
Kata plus dalam trip ini merujuk pada tambahan tujuan wisata selain Penti di Wae Rebo, yaitu wisata bahari di Taman Nasional Riung 17 pulau dan beberapa tempat wajib kunjung di Flores.

Program

14 November 2014 [termasuk makan siang, malam]

  •   Penjemputan di bandara Komodo – Labuan Bajo
  •   Menginap di Ruteng


15 November 2014 [termasuk makan pagi, siang, malam]

  • Spider web rice field
  • Perjalanan dari Ruteng menuju Dintor dengan mobil
  • Trekking dari Dintor menuju Wae Rebo


16 November 2014 [termasuk makan pagi, siang, malam]

  • Perayaan Penti di Wae Rebo


17 November 2014 [termasuk makan pagi, siang, malam]

  • Trekking dari Wae Rebo ke Dintor
  • Perjalanan dari Dintor ke Ruteng dengan mobil
  • Kathedral dan Red Chapel di Ruteng
  • Menginap di Ruteng


18 November 2014 [termasuk makan pagi, siang, malam]

  •  Danau Ranamese
  •  Cunca Kantor Ranamese
  • Pembuatan moke di Aimere
  • Desa adat Bena
  • Menginap di Bajawa


19 November 2014 [termasuk makan pagi, siang, malam]

  • Keliling kota Bajawa
  • Mata air panas Mangeruda
  • Riung 

20 November 2014 [termasuk makan pagi, siang, malam]

  • Wisata bahari di Taman Nasional Riung 17 pulau
  • Menginap di Ende


21 November 2014 [termasuk makan pagi]

  • Pengantaran ke bandara



Harga Rp 5.100.000,- / pax

Meliputi :
  • penjemputan dan pengantaran di dan ke bandara
  • makan sesuai itinerary
  • penginapan
  • mobil untuk perjalan darat
  • kapal untuk wisata bahari
  • wae lu’u [uang duka cita] di Waerebo
  • air putih selama wisata
  • tiket masuk Taman Nasional Riung 17 pulau
  • tip untuk awak kapal dan supir
Tidak termasuk :
  • tiket pesawat dari dan ke Flores
  • sewa perlengkapan snorkeling 
  • laundry di penginapan

Cara pembayaran :
Tahap I Rp. 1.800.000,- paling lambat 4 September 2014
Tahap II Rp. 1.700.000,- paling lambat 4 Oktober 2014
Tahap III Rp. 1.600.000,- paling lambat 4 November 2014

Tertarik dan ada waktu? Silakan segera mendaftarkan diri.  

Atau mencari trip lain yang tidak terlalu melelahkan? Setelah trip ini berakhir, kami juga mengadakan beberapa trip ke tempat-tempat wajib kunjung di Flores. Silakan melihat informasi selengkapnya di ALL ABOUT WEST, ALL ABOUT WEST PLUS, CULTURE RICHNESS, WEST INSIDE, SIMPLY KOMPODO DRAGON, EXOTIC KELIMUTU CRATER



Senin, 28 Juli 2014

Waerebo yang mendunia lebih dahulu sebelum meng-Indonesia






Waerebo adalah sebuah perkampungan di sebuah lembah dengan ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut di Kabupaten Manggarai Flores. Untuk mencapainya perlu pendakian sejauh 9 km dari Denge, kampung terdekat. Pendakian melewati jalan tanah merah dengan pengerasan di antara perkebunan cengkeh, kopi dan kemiri,  menyeberangi sungai dan anak sungai, mendaki Gunung Poco Roko dan menuruni lembahnya, meniti bibir jurang, menembus hutan yang tidak terlalu rapat. Memang menguras tenaga. Tapi semua orang yang pernah melaluinya, mengakui bahwa jerih payahnya terlupakan  begitu tiba di perkampungan.

(Berita terakhir : Pada bulan November 2014, tampak tanda-tanda ruas jalan tanah merah di antara perkebunan akan dikeraskan. Batu-batu kali besar-besar sudah ditata di sepanjang jalan ini. Jika pembangunan jalan ini selesai, berarti bagian terberat ini dapat ditempuh dengan berkendaraan)




Kesejukan, keindahan dan keteduhan perkampungan inilah yang melenyapkan semua kelelahan pendakian sekitar 3-4 jam (tergantung kecepatan dan kondisi fisik). Masyarakat yang bersahabat dan menganggap pendatang sebagai keluarganya sendiri, kesejukan dan kebersihan udaranya dan suasana desa yang teduh bagaikan sumber energi baru bagi jiwa. 


Kampung Waerebo berisi  7 bangunan rumah adat berbentuk kerucut yang semuanya menghadap altar penyembahan kepada nenek moyang (compang) di tengah desa. Rumah adat terbuat dari kayu dengan atap jerami dan  rumput kering. Usaha beberapa ahli arsitektur dan donatur untuk memulihkan keunikan tata ruang kampung dan ketujuh bangunan rumah adatnya bebrapa tahun yang lalu membuahkan penghargaan tertinggi (Award of Excellence) dari UNESCO untuk konservasi situs warisan budaya pada tahun 2012. Sejak itulah Waerebo mulai dikenal orang Indonesia. Bukan salah tulis. Memang itulah kenyataannya. Orang Indonesia mulai mengenal Waerebo baru beberapa tahun belakangan ini. Sementara sejak tigapuluhan tahun yang lalu, orang Eropa sudah menjadikan Waerebo salah satu tujuan wisata mereka di Indonesia. Waerebo memang tempat indah yang sudah mendunia sebelum orang Indonesia mengenalnya.




Salah satu rumah adat di kampung ini dikhususkan bagi wisatawan. Rumah ini memang bukan hotel berbintang, tapi siapapun yang menginap di Waerebo akan mendapat bonus memandang pendaran  jutaan bintang di langit yang bebas dari polusi cahaya lampu. Waerebo adalah sebuah resort dengan perbukitan subur sebagai halamannya.

Tidak ada bath tub atau shower di sana. Sebagai gantinya ada sungai berair jernih dan sejuk dengan pemandangan indah di sekitarnya serta 3 buah pancuran alami dari mata air yang dapat diminum langsung. Selain itu, tersedia juga 2 buah toilet dan 1 kamar mandi beratap kayu dan ilalang di samping rumah. Tidak perlu kuatir dengan kebersihannya. 

Tidak ada room services, tapi keramahtamahan penduduknya dan sikap bersahabat mereka yang menganggap setiap pendatang sebagai keluarganya sendiri tidak akan dijumpai di hotel manapun. 

Tertarik melihat keagungan bangunan-bangunan yang  mendunia  dan merasakan sensasi menjadi warga Waerebo selama 1 hari 1 malam? Yuk...nyasar di Flores bersama kami.   



Sabtu, 03 Mei 2014

Semana Santa in Larantuka

Tuan Ma statue
This article is also publicated  in www.florestourism.com


 Semana Santa or Holy Week is an annual festivity celebrated in Larantuka since 16th century. It is the week preceding Hari Bae, well-known as Easter Sunday. Thousands of pilgrims from around the world come to this town for this event.  There are many processions and devotion sites which are closed for a year are opened during Semana Santa.  All of the activities center in Reinha Rosari Cathedral.The celebration begins on Palm Sunday and culminates on the Good Friday. Pilgrims from outside of town start coming on Wednesday and more on Thursday when the ferry from Kupang anchores at Larantuka harbor.

Queue in Tuan Ana Chapel
Many people do tikam turo which means setting wooden poles for candles on either side of the road along the procession path. After a year of closing, Kapela Tuan Ma (Lord  the Mother Chapel), Kapela Tuan Ana (Lord the Son Chapel), Kapela Senhor (Standing Lord Chapel) and Mgr. Gabriel Manek sanctuary are opened. Pilgrims begin queuing in front of these sites for devotion. Larantuka becomes busy, but still calm. There are no shouting, roughly speaking or get angry despite stinging sun rays.

Tuan Meninu procession in Gonzalu Strait
There are several processions on Good Friday which lead to Good Friday service in the Cathedral. It commences with a marine procession accompanying the cross of Tuan Meninu (Lord the Baby) along Gonzalu Strait. Thousands of pilgrims in boats, ships, vessels and ferry fill the strait while the other thousands of pilgrims stand along the beach. It’s a spectacular marine procession.

Procession toward Cathedral before Good Friday Service
The ritual continues with a  parade of Tuan Ma and Tuan Ana statues, several liturgy equipment, officers and congregation march along the streets of Larantuka towards the Cathedral before Goodt Friday service. A candlelight procession around the city is the peak. People walk and ruminate Christ misery along the street. Silence, pray and meditative chanting alternately fill the air. Nobody talks, nobody sleeps till the procession ends on Saturday 01.30 AM in the Cathedral.
Candlelight procession at Good Friday night

Semana  Santa is a pilgrimage for remembering God’s masterpiece in Larantuka hundreds years ago. Enriched with local tradition, history and culture, it’s is a unique event you must experience in Flores




Do you want to go pilgrimage next year? Will you celebrate Holy Week in Larantuka? Let's get lost in Flores with us.

Senin, 24 Maret 2014

Bena, desa tradisional di kaki Gunung Inerie



Dari kejauhan desa ini sudah terlihat karena letaknya di lereng bukit dan rumah-rumahnya tersusun berjejer ke atas mengikuti kontur lereng. Terkesan tenang dan teduh karena dikelilingi oleh pepohonan besar dan batang-batang bambu yang tumbuh di hutan-hutan di sekitarnya. Begitu turun dari kendaraan, udara sejuk akan menyapu kulit. Inilah Desa Bena,  salah satu dari banyak desa adat di kabupaten Ngada. 

Setiap unsur di desa ini menarik untuk diamati. Rumah-rumah tradisionalnya dibangun dari kayu dengan ukiran-ukiran yang khas. Atapnya terbuat dari ilalang kering dengan hiasan-hiasan di atasnya yang menandakan garis keturunan penghuninya. Tulang-tulang rahang binatang korban persembahan tergantung pada tiang-tiang rumah untuk menunjukkan status sosial penghuninya. 





 
Di bagian tengah desa terdapat beberapa altar penyembahan terhadap leluhur yang terdiri atas 2 bangunan kecil dari kayu dengan atap ilalang yang melambangkan nenek moyang perempuan dan laki-laki. Di antara kedua bangunan terdapat formasi batu-batuan yang menjadi tempat mempersembahkan  binatang bagi leluhur.
 


Bagian paling ujung desa merupakan tempat yang paling tinggi. Tempat dengan sudut pandang 360 derajat ini menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di arah utara terlihat bangunan-bangunan di seluruh desa dengan hutan dan perkebunan di sekitarnya. Di sebelah barat terlihat puncak Gunung Inerie dengan lembah yang dipenuhi hutan. Di kejauhan terlihat air Laut Sawu yang menyatu dengan langit di sebelah selatan. Di puncak desa ini terdapat gua Maria. Tempat tepat untuk menyepi, merenungkan dan mensyukuri keagungan Sang Pencipta.




Keunikan masyarakat Bena adalah sikap biasa-biasa saja dan tak merasa terganggu saat wisatawan datang. Mereka tetap melakukan aktivitas sehari-hari yaitu memintal benang dan menenun oleh para perempuan dan berkebun oleh para laki-laki.

Meskipun Bena menjadi salah satu tujuan wisatawan asing yang datang ke Flores dan teknologi dan modernitas sudah menjangkau desa ini, masyarakatnya masih menjalankan tradisi dan nilai-nilai yang diturunkan oleh leluhurnya.Salah satunya adalah upacara Reba yang dilakukan setiap akhir tahun. Upacara Reba merupakan upacara pergantian tahun yang dirayakan selama beberapa hari. Upacara dilakukan dengan melakukan beberapa prosesi yang melibatkan tetua adat dan seluruh masyarakat, di antaranya penuturan nilai-nilai hidup yang disampaikan melalui nyanyian dan tarian.



Tertarik nyasar di balik hutan-hutan bambu di lereng Gunung Inerie dan melihat keunikan bentuk desa Bena serta melihat aktivitas keseharian masyarakatnya tanpa membuat mereka terusik? Atau melihat dan mengikuti prosesi-prosesi yang dilakukan dalam Upacara Reba? Yuk...nyasar di Flores bersama kami.


Lingko, kearifan lokal dalam membagi hak olah tanah




Ini bukan sawah biasa. Tidak ada garis-garis sejajar yang dibentuk oleh pematang-pematang sawahnya. Pematang-pematang sawah juga bukan tidak membentuk  garis-garis tidak beraturan. Perhatikan foto di sebelah kanan ini. Garis-garis pematang dari arah kanan menuju satu titik imajiner di sebelah kiri. Ini adalah sawah di daerah Manggarai, Flores.
Ada 3 tempat tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Manggarai, yaitu  rumah, kampung dan tanah pertanian atau perkebunan. Pada ketiga tempat ini pola lingkaran terlihat jelas. Rumah tradisional berbentuk kerucut dengan dasar berbentuk lingkaran.Bila dilihat dari bawah, kerangka kayu yang menyusun atap rumah terlihat seperti sarang laba-laba juga.
Kampung tradisional juga membentuk pola lingkaran. Di bagian tengah kampung terdapat  compang, yaitu altar batu tempat persembahan kepada Tuhan dan leluhur. Semua rumah menghadap ke arah compang. Foto di sebelah kanan adalah salah satu kampung tradisional Manggarai yaitu Waerebo. Terlihat ada 7 buah rumah berbentuk kerucut yang mengelilingi compang yang juga berbentuk lingkaran.
Yang terakhir adalah  tanah pertanian dan perkebunan. Di samping ini adalah foto bentuk sawah yang dengan area pandang yang lebih luas dibandingkan foto di atas.  Bentuknya berupa lingkaran-lingkaran konsentris dengan dengan satu titik pusat dan garis-garis lurus dari titik pusat ke luar membentuk jari-jari lingkaran. Seperti sarang laba-laba. 
Foto ini diambil di Desa Cancar, tidak jauh dari Kota Ruteng. Ada satu tempat di desa ini  yang letaknya di ketinggian sehingga petak-petak sawah berbentuk sarang laba-laba terlihat jelas. Dalam bahasa Manggarai petak-petak sawah sarang laba-laba ini disebut lingko. Paling sedikit ada 11 lingko terlihat dari tempat ini.


Lingko merupakan tanah adat  untuk memenuhi kebutuhan bersama. Bentuk lingko yang unik ini merupakan wujud pembagian hak olah tanah secara adat. Pembagian dimulai dari pusat lingkaran yang disebut lodok. Di lodok ini tetua adat membagi tanah dengan menggunakan jarinya sebagai alat ukur. Hasil ukur ditandai pada  batang kayu yang berdiri di tengah lodok. Kemudian ditarik garis lurus dari tanda-tanda di batang kayu  ke arah luar hingga batas terjauh tanah adat. Itulah pembagian hak olah tanah yang akhirnya menghasilkan bentuk sarang laba-laba.

Bentuk sarang laba-laba ini tidak hanya terjadi pada tanah persawahan, tetapi juga pada tanah perkebunan. Pada perkebunan, garis-garis pembagian tidak terlihat jelas seperti pada sawah karena tertutup oleh rimbunnya tanaman kebun yang relatif lebih tinggi dibandingkan padi. Namun bentuk ini masih bisa dilihat melalui citra satelit. Gambar di sebelah ini merupakan gambar yang didapat melalui Google Earth. Pada gambar ini terlihat sekurangnya 5 lingko dengan pusat yang ditunjuk oleh tanda panah merah.

Manggarai memang memiliki tanah subur. Produksi beras di lingko-lingko di seluruh Flores selalu surplus tiap tahunnya. Perkebunan coklat, cengkeh, kopi, kapuk dan kemiri tersebar di seluruh Manggarai.

Tertarik nyasar di perkampungan petani Manggarai, melihat keunikan bentuk pembagian hak olah tanahnya dan berbincang-bincang dengan mereka sambil menikmati kopi luwak dan coklatnya? Atau nyasar di pematang-pematang lingko dan melihat upacara awal masa tanam di lodok? Yuk...nyasar di Flores bersama kami.