Translate

Tampilkan postingan dengan label wisata kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

Lingko, kearifan lokal dalam membagi hak olah tanah




Ini bukan sawah biasa. Tidak ada garis-garis sejajar yang dibentuk oleh pematang-pematang sawahnya. Pematang-pematang sawah juga bukan tidak membentuk  garis-garis tidak beraturan. Perhatikan foto di sebelah kanan ini. Garis-garis pematang dari arah kanan menuju satu titik imajiner di sebelah kiri. Ini adalah sawah di daerah Manggarai, Flores.
Ada 3 tempat tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Manggarai, yaitu  rumah, kampung dan tanah pertanian atau perkebunan. Pada ketiga tempat ini pola lingkaran terlihat jelas. Rumah tradisional berbentuk kerucut dengan dasar berbentuk lingkaran.Bila dilihat dari bawah, kerangka kayu yang menyusun atap rumah terlihat seperti sarang laba-laba juga.
Kampung tradisional juga membentuk pola lingkaran. Di bagian tengah kampung terdapat  compang, yaitu altar batu tempat persembahan kepada Tuhan dan leluhur. Semua rumah menghadap ke arah compang. Foto di sebelah kanan adalah salah satu kampung tradisional Manggarai yaitu Waerebo. Terlihat ada 7 buah rumah berbentuk kerucut yang mengelilingi compang yang juga berbentuk lingkaran.
Yang terakhir adalah  tanah pertanian dan perkebunan. Di samping ini adalah foto bentuk sawah yang dengan area pandang yang lebih luas dibandingkan foto di atas.  Bentuknya berupa lingkaran-lingkaran konsentris dengan dengan satu titik pusat dan garis-garis lurus dari titik pusat ke luar membentuk jari-jari lingkaran. Seperti sarang laba-laba. 
Foto ini diambil di Desa Cancar, tidak jauh dari Kota Ruteng. Ada satu tempat di desa ini  yang letaknya di ketinggian sehingga petak-petak sawah berbentuk sarang laba-laba terlihat jelas. Dalam bahasa Manggarai petak-petak sawah sarang laba-laba ini disebut lingko. Paling sedikit ada 11 lingko terlihat dari tempat ini.


Lingko merupakan tanah adat  untuk memenuhi kebutuhan bersama. Bentuk lingko yang unik ini merupakan wujud pembagian hak olah tanah secara adat. Pembagian dimulai dari pusat lingkaran yang disebut lodok. Di lodok ini tetua adat membagi tanah dengan menggunakan jarinya sebagai alat ukur. Hasil ukur ditandai pada  batang kayu yang berdiri di tengah lodok. Kemudian ditarik garis lurus dari tanda-tanda di batang kayu  ke arah luar hingga batas terjauh tanah adat. Itulah pembagian hak olah tanah yang akhirnya menghasilkan bentuk sarang laba-laba.

Bentuk sarang laba-laba ini tidak hanya terjadi pada tanah persawahan, tetapi juga pada tanah perkebunan. Pada perkebunan, garis-garis pembagian tidak terlihat jelas seperti pada sawah karena tertutup oleh rimbunnya tanaman kebun yang relatif lebih tinggi dibandingkan padi. Namun bentuk ini masih bisa dilihat melalui citra satelit. Gambar di sebelah ini merupakan gambar yang didapat melalui Google Earth. Pada gambar ini terlihat sekurangnya 5 lingko dengan pusat yang ditunjuk oleh tanda panah merah.

Manggarai memang memiliki tanah subur. Produksi beras di lingko-lingko di seluruh Flores selalu surplus tiap tahunnya. Perkebunan coklat, cengkeh, kopi, kapuk dan kemiri tersebar di seluruh Manggarai.

Tertarik nyasar di perkampungan petani Manggarai, melihat keunikan bentuk pembagian hak olah tanahnya dan berbincang-bincang dengan mereka sambil menikmati kopi luwak dan coklatnya? Atau nyasar di pematang-pematang lingko dan melihat upacara awal masa tanam di lodok? Yuk...nyasar di Flores bersama kami. 

 

Kamis, 13 Februari 2014

Penjelajahan alam di Flores nyaris tanpa ujung!

Flores memiliki bentang alam yang unik, bervariasi dan nyaris masih perawan. Keunikannya terbentuk dari topografi daratannya yang berupa deretan rapat gunung-gunung, lembah-lembah, bukit-bukit dan pantai-pantai. Dalam bentang sekitar 400 km, Flores dipenuhi oleh hujan-hutan hujan tropis, hutan-hutan bakau, hutan-hutan bambu, dan padang-padang rumput. Di antara hutan-hutan itulah penduduk tinggal menyatu dengan lingkungannya dan menjaga keperawanannya dengan kearifan lokal masing-masing.

Sulitnya perjalanan antara satu tempat dengan tempat lainnya membuat penjelajahan alam Flores  bagaikan perjalanan tanpa ujung. Perlu waktu yang panjang untuk menjelajahi Flores. Karena itu tidak cukup 3-4 hari dan tidak cukup satu kali untuk menjelajahinya.

Berikut ini beberapa pengalaman peserta Yuk nyasar di Flores dalam menjelajahi Flores.



Trekking menembus hutan hujan tropis, semak belukar dan padang rumput di Deturia. Berujung pada ketenangan permukaan air  Danau Tiwu Sora yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat tinggal nenek moyang mereka yang menjelma menjadi belut raksasa.







Menyeberangi parit irigasi, menempuh jalan setapak yang sedikit menanjak dan melintasi padang penggembalaan yang luas di Waturaka. Berujung pada pesona bentangan pelangi setangah lingkaran di bawah curahan air terjun Murukeba.








 




Mendaki padang rumput di bawah terik sinar matahari di Pulau Rinca. Berujung pada keindahan laut di salah satu teluk dengan panorama indah.



Memilih satu di antara puluhan bahkan ratusan kain tenun ikat indah di Pasar Alok Maumere. Berujung pada sehelai penutup tempat tidur bermotif rumit nan memesona.



Perjalanan mendaki menuju Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, Sikka. Berujung pada kesegaran baru bagi jiwa yang dahaga.




 


Melongok melalui celah sempit di Gua Batu Cermin, Manggarai Barat. Berujung pada keindahan ukiran alam yang terbentuk oleh stalagtit dan stalagmit.



Berburu obyek foto dari sudut, pencahayaan dan pengaturan kamera. Berujung pada kepuasan melihat hasilnya, membaginya di media sosial atau menjualnya kepada yang menghargainya.







Duduk manis di kapal menikmati ayunan ombak sambil sekali-sekali dikejutkan oleh lompatan lumba-lumba. Berujung di pantai berpasir dan laut dangkal penuh koral dan ikan di Taman Nasional Komodo



Pendakian yang menguras tenaga melalui perkebunan rakyat, hutan, bukit, lembah dan sungai di Manggarai. Berujung pada keindahan alam dan kesejukan Waerebo, keagungan rumah-rumah adatnya serta keramahtamahan penduduknya.








Melompati batu-batu dan sekali-sekali membiarkan kaki dibasahi oleh genangan air di Taman Nasional Ranamese. Berujung pada kesegaran curahan air terjun Cunca Kantor Ranamese.










 


Penjelajahan tak akan berhenti hanya karena rusaknya sol sepatu. Hanya berakhir saat ujung yang  tersembunyi itu tercapai.








Tertarik untuk menjelajahi alam Flores yang masih perawan dan menemukan hal-hal unik di ujung-ujung pelosoknya?  Yuk...nyasar di Flores bersama kami. 






Selasa, 14 Januari 2014

Tiwu Bowu, danau air tawar




Ada "2 lapis" air. di bawah langit
Gunung dan bukit yang berada di pinggir laut merupakan hal biasa di Flores. Tetapi  danau air tawar  yang letaknya di pinggir laut mungkin hanya Tiwu Bowu satu-satunya.Pada foto di atas, terlihat ada "2 lapis" air. Di bawah langit biru ada lapisan air laut berwarna biru tua. Di bawahnya ada lapisan hutan bakau dan di bawahnya ada lapisan air danau. 

Tiwu dalam bahasa Lio berarti danau.Tiwu Bowu berada di semenanjung utara Kabupaten Ende. Lebih mudah dijangkau dari Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka daripada Kota Ende. Ada jalan aspal hotmix dari Maumere hingga Kota Baru, kota terdekat yang dapat ditempuh dengan mobil. Ada pemandangan bukit-bukit dan tepi laut di sepanjang jalan yang tidak membosankan. Setelah itu harus disambung berjalan kaki hingga tepi danau.

Meskipun berada tidak jauh dari pantai, Tiwu Bowu merupakan tempat yang sejuk dan segar karena banyak ditumbuhi pepohonan besar. Ada hutan, sawah dan perkampungan penduduk yang berada di sekitar danau.Sebagian penduduk ada yang bekerja sebagai nelayan. Bersantai di perahu sambil mengamati pemandangan di sekitar danau, mengeker  burung-burung di hutan dan diakhiri dengan menyantap olahan ikan yang baru ditangkap merupakan kegiatan menarik di tempat ini. Jangan lupa membawa binokular.



Tertarik nyasar di Tiwu Bowu dan merasakan nikmatnya masakan ikan yang baru ditangkap dari danau? Yuk...nyasar di Flores bersama kami. 










Baba Akong, pahlawan lingkungan di pesisir utara Kabupaten Sikka


Baba Akong dengan kalpataru emasnya
Satu-satunya tanda bahwa beliau keturunan Cina hanya bentuk wajahnya. Bicaranya cadel karena giginya sudah banyak hilang dan penyakit degenertif yang dideritanya. Nama aslinya merupakan nama umum orang Sikka. Beliau sendiri mengakui namanya sulit diingat dan minta dipanggil Baba Akong saja.  Sebutan Baba dalam bahasa Lio (salah satu bahasa asli orang Sikka) lebih merupakan panggilan hormat kepada laki-laki dewasa daripada panggilan berbau diskriminatif. 

Selebihnya.....semua menunjukkan bahwa beliau orang Indonesia. Karyanya sejak 1992 menanam bakau di pesisir utara Sikka membuktikan dia adalah orang Indonesia yang lahir, hidup, bergumul, dan berkarya di Indonesia.  

Hidup dan karyanya membangun hutan bakau di Reroroja merupakan investasi bukan hanya bagi anak-cucunya saja, tapi bagi seluruh masyarakat yang hidup di daerah tersebut. Hutan bakau ini memang dibangun seperti bangunan-bangunan lain. Dibangun di atas tanah berpasir dan tandus dengan keringatnya sendiri. Kini bangunan itu menjadi tempat bernaung puluhan spesies unggas, udang, ikan dan kepiting serta menjadi tempat  masyarakat di sekitarnya.menggantungkan hidup sebagai pencari dan penjual makanan laut.



Di hutan ini ada 15 species bakau. Salah satunya memiliki daun yang berkhasiat menetralisir racun duri ikan pari yang pernah membunuh Steve Irwin, the crocodile hunter. Seperti beberapa penduduk lokal Reroroja lainnya yang selalu berhubungan dengan satwa laut, Baba Akong pernah tertusuk duri ikan pari dan merasakan efeknya pada denyut jantung. Daun bakau inilah yang menyelamatkannya. Alam memang selalu menyediakan jalan keluar bagi masalah manusia yang berkaitan dengan alam. Yang diperlukan sebetulnya hanya kepekaan dalam memahami bahasa alam saja.


Tertarik nyasar di hutan bakau ini dan belajar memahami bahasa alam dari Baba Akong? Yuk...nyasar di Flores bersama kami. 


Nyasar di Flores ?




Nyasar di kampung nelayan Wuring

Flores memang tempat nyasar, karena sensasi yang muncul saat berada di Flores adalah rasa asing, terutama bagi orang yang sehari-harinya berada di keramaian. Banyak hal tak biasa dan tak terduga di Flores. Perencanaan memang harus dibuat sebelum nyasar ke Flores, tapi jangan kaget jika rencana harus diubah beberapa saat sebelum tiba atau setibanya di tempat nyasar. Tanpa kejutan, nyasar di Flores kurang asik!

Nyasar di sebuah hutan di Manggarai


Untuk nyasar ke Flores, yang pertama kali harus diubah adalah persepsi bahwa Flores adalah pulau panas dan gersang. Kenyataannya, Flores merupakan pulau yang subur, meski di beberapa tempat memang hanya dijumpai padang rumput dan terlihat kering saat kemarau. Kesuburannya membuat flora dan fauna tumbuh dan berkembang-biak dengan baik. Sementara padang-padang rumput memiliki tekstur geografis yang menarik, dan pada musim kemarau merupakan obyek foto yang indah. Jadi nyasar di Flores…… asyik! Soal panas atau dingin, sama seperti pulau lainnya, tergantung ketinggiannya dari permukaan laut. Ada tempat dingin, ada tempat panas.


 
Nyasar di Pulau Rinca








Lalu… ada 3 hal penting yang perlu diketahui sebelum nyasar di Flores. Pertama mengenai jalanan.  Pulau Flores terdiri atas gunung, bukit, lembah yang rapat. Akibatnya, jalan antar kota berkelok-kelok mengikuti tekstur geografis ini. Kelok Sembilan di Sumatera Barat tidak ada artinya dibandingkan kelok-kelok di Flores. Karena itu nyasar di Flores menyita banyak waktu untuk perjalanan antar kota. Jalan memang berkelok-kelok, tapi sebagian besar jalan antar kota sudah di-hot-mix dan umumnya pengendara mobil lokal mempunyai ketrampilan khusus melewati kelok-kelok jalan untuk mengurangi efek memabukkan.. Separah apapun perut dikocok oleh kelokan-kelokan jalan, selalu ada hadiah berupa pemandangan yang indah di tempat tujuan. 



Nasi merah, rumpu rampe,
sambal luat di RM Pangan Lokal
Kedua dan ketiga mengenai penginapan dan makanan. Kota di Flores yang paling siap menyambut wisatawan adalah Labuan Bajo, kota transit sebelum menuju Taman Nasional Komodo. Letaknya di ujung barat Flores. Di kota ini tersedia banyak penginapan mulai dari homestay hingga hotel berbintang 4. Rumah makanpun beragam pilihannya, dari hidangan laut, masakan Jawa, Cina, Padang hingga Eropa. Kota-kota lain bukanlah kota wisata. Agak sulit menemukan penginapan berbintang, tapi selalu ada tempat menginap di tiap kota kabupaten. Makin ke timur, makin sulit menemukan penginapan yang baik. Soal makanan,tidak ada makanan ekstrim di Flores. Semua makanan bisa diterima oleh lidah orang Indonesia pada umumnya. Bumbu tidak terlalu menonjol dalam tiap masakan. Istimewanya, sebagian besar makanan di Flores terbuat dari bahan organik dan makanan laut umumnya segar.


Tertarik pada suasana yang berbeda dengan nyasar di Flores dan menemukan hal-hal tak biasa dan tak terduga di sana? Yuk...nyasar di Flores bersama kami.